Di tengah guyuran hujan April yang tak kunjung reda, kisah seorang janda beranak satu yang memendam harapan manis pada seorang perjaka terasa begitu pilu. Ia membayangkan pemandu lagu sempurna. pria polos, siap merangkul masa lalunya tanpa beban. Tapi, seperti banyak dongeng urban di Surabaya, harapan itu pupus mungkin karena si perjaka mundur melihat tanggung jawab anak, atau sekadar ketakutan akan "bekas barang".
Yang lebih dalam lagi, si janda akhirnya sadar prioritas utamanya bukan romansa ideal, melainkan pemuda yang mampu membiayai anaknya realitas pahit di mana cinta harus bertemu roti. Ironisnya, ini bukan akhir dunia, melainkan pengingat tajam. Bulan April, dengan angin sepoi dan bunga-bunga mekar, seharusnya jadi simbol renewal, bukan duka. Perjaka yang ideal hanyalah ilusi pasangan sejati adalah yang melihat kekuatanmu sebagai ibu, sekaligus punya kestabilan finansial untuk masa depan anak. Kisah hampa ini justru dorongan untuk self-love cari yang menghargai ceritamu apa adanya, sambil memastikan tagihan sekolah anak teratasi, bukan yang lari dari realita. Ironisnya, pilihan pragmatis si janda justru mengecewakan si perjaka yang tadinya penuh mimpi.
JP
